Kamis, 03 Januari 2013

ASKEP PRURITUS

 ASKEP PRURITUS
BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang 
Latar belakang penulisan makalah ini adalah supaya mahasiswa lebih tahu tentang penyakit pruritus bagaimna gejala, tanda-tandanya dan juga bagaimana cara penangannya. Karena pruritus termasuk salah satu jenis penyakit yang umum di masyarakat saat ini,
B.     Rumusan Masalah
1)    Definisi
2)    Etiologi
3)    Patofisiologi
4)    Manifestasi Klinik
5)    Penatalaksanaan
C.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Setelah mempelajari makalah ini, mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada lansia dengan pruritu
2.      Tujuan Khusus
Setelah mempelajari makalah ini, mahasiswa mampu:
a)      Menjelaskan definisi pruritus
b)      Memahami etiologi dari pruritus
c)      Menyebutkan manifestasi klinis
d)      Menjelaskan patofisiologi pruritus
e)      Menjelaskan kompikasi pruritus
f)        Menjelaskan cara penanganan pruritus
g)      Menjelaskan penatalaksanaan pruritus
D.    Manfaat
Adapun makalah ini dapat digunakan sebagai :
1)      Bahan untuk belajar tentang perawatan pruritus dalam keperawatan gerontik.
2)      Menambah bacaan tentang pruritus
3)      Salah satu acuan belajar tentang asuhan pasien pruritus
4)      Sebagai motivator dan sumber informasi bagi mahasiswa tentang pruritus
BAB II
KONSEP DASAR
A.     PENGERTIAN
Pruritus berasal dari kata Prurire: gatal; rasa gatal; berbagai macam keadaan yang ditandai oleh rasa gatal (Kamus Kedokteran Dorland.1996). Djuanda A, dkk (1993), mengemukakan pruritus adalah sensasi kulit yang iritatif dan menimbulkan rangsangan untuk menggaruk. Berdasarkan dua pendapat di atas, Pruritus adalah sensasi kulit yang iritatif dan ditandai oleh rasa gatal, serta menimbulkan rangsangan untuk menggaruk. Reseptor rasa gatal tidak bermielin, mempunyai ujung saraf mirip sikat (penicillate) yang hanya ditemukan pada kulit, membran mukosa dan kornea (Sher,1992). Pruritus merupakan salah satu dari sejumlah keluhan yang paling sering dijumpai pada gangguan dermatologic

B.     KLASIFIKASI GATEL
1.      Pruritoceptive itch : Akibat gangguan yang berasal dari kulit. Misalnya, inflamasi, kering, dan kerusakan kulit.
2.      Neuropathic itch : Akibat gangguan pada jalur aferen saraf perifer atau sentral. Misalnya, pada herpes dan tumor.
3.      Neurogenic itch : Tidak ada gangguan pada saraf maupun kulit, namun terdapat transmitter yang merangsang gatal. Misalnya, morphin dan penyakit sistemik (ginjal kronis, jaundice)
4.      Psikogenic itch : Akibat gangguan psikologi. Misalnya, parasitophobia

C.     ETIOLOGI
Pruritus dapat disebabkan oleh berbagai macam gangguan. Secara umum, penyebab pruritus dapat diklasifikasikan menjadi lima golongan, yaitu:
1.      Pruritus local
Pruritus lokal adalah pruritus yang terbatas pada area tertentu di tubuh. Penyebabnya beragam, Beberapa Penyebab Pruritus Lokal:
1.      Kulit kepala      : Seborrhoeic dermatitis, kutu rambut
2.      Punggung          : Notalgia paraesthetica
3.      Lengan             : Brachioradial pruritus
4.      Tangan             : Dermatitis tangan
5.      dll
2.      Gangguan sistemik
Beberapa Gangguan Sistemik Penyebab Pruritus
1.      Gangguan ginjal seperti Gagal ginjal kronik.
2.      Gangguan hati seperti Obstruksi biliaris intrahepatika atau ekstrahepatika.
3.      Endokrin/Metabolik seperti Diabetes, hipertiroidisme, Hipoparatiroidisme, dan Myxoedema.
4.      Gangguan pada Darah Defisiensi seng (anemia), Polycythaemia, Leukimia limfatik, dan Hodgkin's disease.

3.      Gangguan pada kulit
Penyebab pruritus yang berasal dari gangguan kulit sangat beragam. Beberapa diantaranya, yaitu dermatitis kontak, kulit kering, prurigo nodularis, urtikaria, psoriasis, dermatitis atopic, folikulitis, kutu, scabies, miliaria, dan sunburn.
4.      Pajanan terhadap factor tertentu
Pajanan kulit terhadap beberapa factor, baik berasal dari luar maupun dalam dapat menyebabkan pruritus. Faktor yang dimaksud adalah allergen atau bentuk iritan lainnya, urtikaria fisikal, awuagenic pruritus, serangga, dan obat-obatan tertentu (topical maupun sistemik; contoh: opioid, aspirin).
5.      Hormonal
2% dari wanita hamil menderita pruritus tanpa adanya gangguan dermatologic. Pruritus gravidarum diinduksi oleh estrogen dan terkadang terdapat hubungan dengan kolestasis. Pruritus terutama terjadi pada trimester ketiga kehamilan, dimulai pada abdomen atau badan, kemudian menjadi generalisata. Ada kalanya pruritus disertai dengan anoreksi, nausea, dan muntah. Pruritus akan menghilang setelah penderita melahirkan. Ikterus kolestasis timbul setelah penderita mengalami pruritus 2-4 minggu. Ikterus dan pruritus disebabkan oleh karena terdapat garam empedu di dalam kulit. Selain itu, pruritus juga menjadi gejala umum terjadi menopause.Setidaknya 50% orang berumur 70 tahun atau lebih mengalami pruritus. Kelainan kulit yang menyebabkan pruritus, seperti scabies, pemphigoid nodularis, atau eczema grade rendah perlu dipertimbangkan selain gangguan sistemik seperti kolestasis ataupun gagal ginjal. Pada sebagian besar kasus pruritus spontan, penyebab pruritus pada lansia adalah kekeringan kulit akibat penuaan kulit. Pruritus pada lansia berespon baik terhadap pengobatan emollient.

D.    PATOFISIOLOGI
Pruritus merupakan salah satu dari sejumlah keluhan yang paling sering dijumpai pada gangguan dermatologic yang menimbulkan gangguan dermatologic yang menimbulkan gangguan rasa nyaman dan perubahan integritas kulit jika pasien meresponnya dengan garukan.  Reseptor rasa gatal tidak bermielin, mempunyai ujung saraf mirip sikat (peniciate) yang hanya ditemukan dalam kuit, membrane mukosa dan kornea (Sher, 1992).
Garukan menyebabkan terjadinya inflamasi sel dan pelepasan histamine oleh ujung saraf yang memperberat gejala pruritus yang selanjutnya menghasilkan lingkaran setan rasa gatal dan menggaruk. Meskipun pruritus biasanya disebabkan oleh penyakit kulit yang primer dengan terjadinya ruam atau lesi sebagai akibatnya, namun keadaan ini bisa timbul tanpa manifestasi kulit apapun. Keadaan ini disebut sebagai esensial yang umumnya memiliki awitan yang cepat, bias berat dan menganggu aktivitas hidup sehari-hari yang normal.

E.     KLASIFIKASI PRURITUS PERIANAL
Pruritus di daerah anus dan genital dapat terjadi akibat partikel kecil feces yang terjepit dalam lipatan perianal atau yang melekat pada rambut anus, atau akibat kerusakan kulit perianal karena garukan, keadaan basah dan penurunan sesistensi kulit yang disebabkan oleh terapi kortikosteroid atau antibiotic. Keadaan lain yang dapat menyebabkan gatal-gatal di daerah sekitar anus (Pruritis Perianal) adalah iritan local seperti scabies serta tuma, lesi local seperti hemoroid, infeksi jamur atau kandida, dan infestasi cacing kerawit. Keadaan seperti DM, Anemia, Hipertiroidisme, dan kehamilan dapat pula menyebabkan pruritus perianal.

F.      MANIFESTASI KLINIS
Pruritus secara khas akan menyebabkan pasien menngaruk yang biasanya dilakukan semakin intensif pada malam hari. Pruritus tidak sering dilaporkan pada saat terjaga karena perhatian pasien teralih pada aktifitas sehari-hari. Pada malam hari dimana ha-hal yang bisa mengalihkan perhatian hanya sedikit, keadaan priritus yang ringan sekalipun tidak mudah diabaikan. Efek sekunder mencakup ekskorisi, kemerahan bagian kulit yang menonjol (bidur), infeksi dan perubahan pigmentasi. Rasa gatal yang hebat akan menganggu penampilan pasien.

G.    KOMPLIKASI

Bila skabies tidak diobati selama beberapa minggu atau bulan, dapat timbul dermatitis akibat garukan. Erupsi dapat berbentuk impetigo, ektima, sellulitis, limfangitis, dan furunkel. Infeksi bakteri pada bayi dan anak kecil yang diserang scabies dapat menimbulkan komplikasi pada ginjal. Dermatitis iritan dapat timbul karena penggunaan preparat anti skabies yang berlebihan, baik pada terapi awal ataupun pemakaian yang terlalu sering.

H.    PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pruritus sangat bergantung pada penyebab rasa gatal itu sendiri. Sementara pemeriksaan untuk mencari penyebab pruritus dilakukan, terdapat beberapa cara untuk mengatasi rasa gatal sehingga menimbulkan perasaan lega pada penderita, yaitu:

Pengobatan topical:
1.      Dinginkan kulit dengan kain basah atau air hangat
2.      Losion calamine. Losion ini tidak dapat digunakan pada kulit yang kering dan memiliki batasan waktu dalam pemakaiannya karena mengandung phenols.
3.      Losion menthol/camphor yang berfungsi untuk memberikan sensasi dingin.
4.      Pemakaian emmolient yang teratur, terutama jika kulit kering.
5.      Kortikosteroid topical sedang untuk periode waktu yang pendek.

Antihistamin topical sebaiknya tidak digunakan karena dapat mensensitisasi kulit dan menimbulkan alergi dermatitis kontak.

Pengobatan dengan medikasi oral mungkin diperlukan, jika rasa gatal cukup parah dan menyebabkan tidur terganggu:
1.      Aspirin: efektif pada pruritus yang disebabkan oleh mediator kinin atau prostaglandin, tapi dapat memperburuk rasa gatal pada beberapa pasien.
2.      Doxepin atau amitriptyline: antidepresan trisiklik dengan antipruritus yang efektif. Antidepresan tetrasiklik dapat membantu rasa gatal yang lebih parah.
3.      Antihistamin: antihistamin yang tidak mengandung penenang memiliki antipruritus. Antihistamin penenang dapat digunakan karena efek penenangnya tersebut.
4.      Thalidomide terbukti ampuh mengatasi prurigo nodular dan beberapa jenis pruritus kronik.

Upaya lain yang berguna untuk menghindari pruritus, diantaranya mencegah factor pengendap, seperti pakaian yang kasar, terlalu panas, dan yang menyebabkan vasodilatasi jika dapat menimbulkan rasa gatal (mis. Kafein, alcohol, makanan pedas). Jika kebutuhan untuk menggaruk tidak tertahankan, maka gosok atau garuk area yang bersangkutan dengan telapak tangan.

Untuk gatal ringan dengan penyebab yang tidak membahayakan seperti kulit kering, dapat dilakukan penanganan sendiri berupa:

1.      Mengoleskan pelembab kulit berulang kali sepanjang hari dan segera setelah mandi.
2.      Tidak mandi terlalu sering dengan air berkadar kaporit tinggi..
3.      Memasang alat pelembab udara, terutama di ruangan ber-AC.
4.      Mengenakan pakaian yang tidak mengiritasi kulit seperti katun dan sutra, menghindari bahan wol serta bahan sintesis yang tidak menyerap keringat.
5.      Menghindari konsumsi kafein, alkohol, rempah-rempah, air panas dan keringat berlebihan.
6.      Menghindari hal-hal yang telah diketahui merupakan penyebab gatal.
7.      Menjaga higiene pribadi dan lingkungan.
8.      Mencegah komplikasi akibat garukan dengan jalan memotong kuku dan menggosok kulit yang gatal menggunakan telapak tangan sebagai ganti menggaruk. Obat yang dapat dipergunakan antara lain obat oles antigatal (dengan kandungan mentol, kampor, kalamin dan doxepin HCl) serta obat minum, seperti doxepin dan antihistamin.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
1.      Biodata
Cantumkan biodata klien secara lengkap yang mencakup umur, jenis kelamin, suku bangsa.
2.      Keluhan utama
Biasanya klien datang ke tempat pelayanan kesehatan dengan keluhan gatal pada kulitnya, intensitas gatal lebih sering terasa pada malam hari.
3.      Riwayat penyakit sekarang
Factor pencetus timbulnya pruritus dapat disebabkan oleh adanya kelainan sistemik internal seperti diabetes melitus, kelainan darah atau kanker, penggunaan preperat oral seperti aspirin , terapi antibiotic, hormone. Adanya alergi, baru saja minum obat yang baru, pergantian kosmetik dapat menjadi factor pencetus adanya pruritus. Tanda-tanda infeksi dan bukti lingkungan seperti udara yang panas, kering, atau seprei/selimut yang menyebabkan iritasi, harus dikenal.
Pruritus dapat terjadi pada orang yang berusia lanjut sebagai akibat dari kulit yang kering.
4.      Riwayat penyakit dahulu
Pruritus merupakan penyakit yang hilang/ timbul, sehingga pada riwayat penyakit dahulu sebagian besar klien pernah menderita penyakit yang sama dengan kondisi yang dirasa sekarang.
5.      Riwayat penyakit keluarga
Diduga factor genetic tidak mempengaruhi timbulnya pruritus. Kecuali dalam keluarga ada kelainan sistemik internal yang bersifat herediter mungkin juga mengalami pruritus.
6.      Riwayat psikososial
Rasa gatal dapat pula disebabkan oeh factor psikologik seperti stress yang berlebihan dalam keluarga atau lingkunagn kerja. Pruritus menimbulkan gangguan rasa nyaman dan perubahan integritas kulit. Rasa gatal yang hebat akan menganggu penampilan pasien.

DIAGNOSA
1.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya lesi, erosi.
2.      Gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya kerusakan integritas kulit.
3.      Pola tidur tidak efektif berhubungan dengan adanya rasa gatal.
4.      Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan adanya lesi.
5.      Kurang pengetahuan kurang terpapar informasi.

INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Perawat harus menegaskan kembali alasan program terapi dan  masalah spesifik yang dialami klien.
2.      Jika mandi rendam, ingatkan gunakan air suam-suam kuku dan mengibaskan air yang berlebihan, keringkan daerah lipatan menggunakan handuk dengan cara ditekan-tekan.
3.      Menggosok kulit kuat-kuat dengan handuk harus dihindari, karena overstimulasi kulit yang akan menambah rasa gatal dan menghilangkan air dari stratum korneum.
4.      Segera lumasi dengan preparat emolien yang akan mempertahankan kelembaban kulit setelah mandi.
5.      Beritahu klien untuk menghindari situasi penyebab vasodilatasi seperti kontak udara lingkungan panas, pemakaian alkohol,makan-minum panas yang dapat memicu peningkatan rasa gatal (Sher.1992).
6.      Lebih baik menggunakan pakaian dari katun daripada bahan sintetik. Jaga kamar tidur tetap sejuk, hindari menggaruk kuat-kuat dan kuku selalu pendek untuk menghindari infeksi.
7.      Bila perlu lakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab pruritus dan jelaskan prosedur dan hasil yg diharapkan

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
1.      Lakukan pengkajian ulang atau validasi masalah klien
2.      Tentukan tindakan keperawatan yang akan di lakukan untuk mengatasi masalah klien
3.      Aplikasikan rencana tindakan tersebut ke dalam tindakan nyata
4.      Prioritaskan tindakan yang lebih penting dulu


5.      Catat semua perkembangan masalah klien
6.      Dokumentasikan tindakan tersebut

EVALUASI
1.      Tanyakan pada klien apakah status kesehatannya sudah membaik
2.      Lihat hasil perkembangan kesehatan terakhir
3.      Dokumentasikan hasil evaluasi tersebut

PENDIDIKAN KESEHATAN
1.      Higiene yang baik, hentikan konsumsi obat bebas.
2.      Bilas daerah perianal dengan air hangat kuku kemudian dikeringkan dengan kapas, atau menggunakan tissu yang sudah dibasahi untuk membersihkan bekas defekasi.
3.      Hindari mandi rendam dalam air yang terlalu panas dan tidak memakai larutan busa sabun, natrium biakrbonat,sabun deterjen, karena akan memperburuk kekeringan kulit.
4.      Hindari pakaian dalam dari bahan sintetik, supaya kulit tetap kering.
5.      Hindari anestesi lokal karena efek elergen.


BAB IV
KESIMPULAN
Pruritus adalah sensasi kulit yang iritatif dan ditandai oleh rasa gatal, serta menimbulkan rangsangan untuk menggaruk. Pruritus dapat disebabkan oleh berbagai macam gangguan. Secara umum, penyebab pruritus dapat diklasifikasikan menjadi lima golongan:Pruritus localGangguan sistemik, Gangguan pada kulitPajanan terhadap factor tertentuHormonal.
Penatalaksanaan pruritus sangat bergantung pada penyebab rasa gatal itu sendiri. Sementara pemeriksaan untuk mencari penyebab pruritus dilakukan, terdapat beberapa cara untuk mengatasi rasa gatal sehingga menimbulkan perasaan lega pada penderita, yaitu: Pengobatan topical dan Pengobatan dengan medikasi oral


DAFTAR PUSTAKA
1.      Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan, Edisi 17. Jakarta : EGC
2.      Johnson, Marion, dkk. 2000. IOWA Intervention Project Nursing Outcomes Classifcation (NOC), Second edition. USA : Mosby.
3.      McCloskey, Joanne C. dkk. 1996. IOWA Intervention Project Nursing Intervention Classifcation (NIC), Second edition. USA : Mosby.
4.      Ramali, Ahmad. 2005. Kamus Kedokteran: Arti dan Keterangan Istilah., cetakan 26. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar